Latar Belakang Kemunculan Mu'tazilah dan doktrinnya.

Sebutan mu’tazilah berawal dari kata I’tazala yang memiliki arti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri.

Mu'tazilah
Aliran Kalam Mu'tazilah


Mengenai nama mu’tazilah, al Baghdadi menyatakan  bahwa washil dan temannya, amr bin ubaid, diusir oleh hasan al basri dari majelisnya karena ada pertikaian diantara mereka tentang masalah qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari hasan al-basri dan berpendapat bahwa orang yang berbuat itu mukmin dan tidak kafir. Oleh karena itu, golongan itu dinamakan mu’tazilah.

Sedangkan menurut ahmad amin, beliau berpendapat mengenai mu’tazilah. Nama mu’tzailah diberikan kepada golongan orang-orang yang tidak mau intervensi dalam pertikaian politik yang terjadi pada zaman utsman bin affan dan ali bin abi thalib. Satu golongan mengikuti pertikaian itu, sedangkan golongan lain menjauhkan diri ke kharbita (I’tazilat ila kharbita).

Oleh karena itu, dalam surat yang dikirimnya kepada Ali bin abi thalib, qais menamakan golongan yang menjauhkan diri tersebut dengan mu’tazilin, sedangkan abu al-fida menamakannya dengan mu’tazilah.

Latar belakang kemunculan aliran Mu’tazilah


Penulis meringkas latar belakang kemunculan dari aliran mu’tazilah yang telah dijelaskan dari 2 pendapat diatas.

Secara ringkas, latar belakang kemunculan aliran ini adalah karena perbedaan pendapat antara wahsil bin atha’ dan amir bin ubaid dengan tokoh aliran murji'ah yaitu hasan al-bashri mengenai qadar dan orang yang berdosa besar. Karena menurut hasan al-basri pelaku dosar besar itu bukan mukmin dan bukan pula kafir. Akan tetapi sebagai orang yang fasik.

Sedangkan menurut washil dan temannya tersebut, berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah bukan mukmin dan bukan pula kafir. Melainkan menduduki tempat diantara mukmin dengan kafir. Karena pendapatnya tersebut, washil bin atha’ dan amir bin ubaid tidak setuju dengan hasan aal-bashri dan akhirnya memisahkan diri dari majelisnya. Makanya mereka dinamakan mu’tazilah.

Doktrin aliran mu’tazilah


Doktrin mu’tazilah dinamakan dengan Al-ushul khamsah, artinya Lima ajaran dasar teologi mu’tazilah.


1.At-Tauhid (Pengesaan Tuhan)


Merupakan prinsip pertama dari paham ajaran aliran ini. Untuk memurnikan keesaan Tuhan, mu’tazilah tidak setuju dengan konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan (antropomorfisme/tajassum), dan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala.

Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan itu Esa, tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Dia maha melihat, mendengar, kuasa, mengetahui dan sejenisnya. Akan tetapi, mendengar, melihat itu bukan sifat, melainkan Dzat-Nya.

Menurut mereka, sifat adalah sesuatu yan melekat. Apabila sifat tuhan yang qadim, ada dua yang qadim, yaitu dzat dan sifat-Nya.  Wasil bin atha’ yang seperti didalam kutipannya yang bersumber dari Asy-syahrastani, ia berkata “siapa yang mengatakan sifat yang qadim berarti telah menduakan Tuhan.” Ini tidak dapat diterima karena merupakan perbuatan syirik.

2. Al-Adl


Ajaran yang kedua aliran ini adalah al-adil. Yang berarti tuhan itu maha adil.

Adil adalah suatu atribut yang paling jelas untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha sempurna, sudah pasti dia adil. Ini dikarenakan, alam semesta ini diciptakan untuk kepentingan manusia.

Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya yang baik (ash-shalah) dan terbaik (al-aslah), dan bukan yang tidak baik. Dan juga Tuhan itu adil manakala tuhan tidak melanggar janji-Nya.

3. Al-wa’ad Wa Al-wa’id (janji dan ancaman)


Doktrin ini berhubungan dengan ajaran kedua. Ajaran ini berarti janji dan ancaman. Tuhan memberikan pahala untuk manusia yang berbuat baik dan Tuhan memberikan dosa untuk manusia yang berbuat jahat.

Janji tuhan untuk memberi pahala masuk surga bagi yang berbuat baik (al-muthi) dan mengancam dengan siksa neraka atas orang yang durhaka (al-‘ashi) pasti terjadi, dan juga janji Tuhan untuk memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha pasti benar adanya.

4. Al-Manzilah Bin Al-Manzilitain


Ajaran ini menjelaskan status orang yang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Menurut washil in atha’, orang yang bedosa besar berada di dua posisi yaitu al-manzilah bin al-manzilitain

5. Al-amr bi al-ma’ruf wa an nahy’an al-munkar.


Ajaran yang terakhir ini adalah menyuruh dalam kebajikan atau kebaikan dan  melarang dalam kemungkaran atau keburukan.

Akan tetapi dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seorang mukmin, syaratnya adalah:
  1. Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu ma’ruf, yang dilarang itu munkar.
  2. Ia mengetahui bahwa kemungkaran telah dilakukan oleh seseorang.
  3. Ia mengetahui bahwa perbuatan amar ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa madharat yang lebih besar.
  4. Ia mengetahui atau paling tidak menduga bahwa tindakannya akan membahayakn diri dan hartanya.

Tahukah Anda?


1. Apa aliran khawarij itu? Dan bagaimana latar belakang kemunculannya?

Referensi:

  • Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag dan Prof. Dr.H. Rosihon Anwar, M.Ag. Ilmu kalam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2016.
  • Abd. Al-Jabbar bin Ahmad, Syarh Al-Ushul Al-Khamsah, Maktab Wahbab, Kairo, 1965.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Latar Belakang Kemunculan Mu'tazilah dan doktrinnya."

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.