Wali Nikah Menurut 4 Madzhab

Pernikahan itu bukan hanya menyatukan 2 hati saja, namun menyatukan 2 keluarga. Untuk menyatukan 2 keluarga tersebut tiidaklah mudah, karena terdapat perbedaan mulai dari suku, bahasa dan etnis.

Indonesia itu negara yang sangat luas. Bisa jadi orang jawa bisa mendapatkan jodohnya dengan orang aceh yang berada di ujung negara Indonesia. Namun dari perbedaan tersebut janganlah menjadi permasalahan. Karena memang dari awal Allah menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." 
(Q.S al-Hujurat:13)

Dalam pernikahan umumnya terdapat mahar, saksi, calon mempelai dan juga wali. Namun, untuk wali sendiri masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan para imam madzhab. Ada yang mengatakan bahwa wali itu menjadi syarat sahnya pernikah, namun ada juga yang tidak.

Agar lebih jelas dibawah ini akan dijelaskan Wali Nikah Menurut 4 Madzhab.

Wali Nikah Menurut 4 Madzhab
Sumber Foto: Panjihitam


Wali Nikah Menurut 4 Imam Madzhab

A.Pengertian Wali


Perwalian dalam arti umum, yaitu “segala sesuatu yang berhubungan dengan wali”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “wali”mempunyai banyak makna, antara lain:
  • Orang yang menurut hukum (agama, adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya, sebelum anak itu dewasa.
  • Pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah (yaitu yang melakukan janji nikah dengan pengantin laki-laki).
  • Orang saleh (suci), penyebar agama.
  • Kepala pemerintah, dan sebagainya. (Dedi Supriyadi, 2011: 31)

Secara spesifik, perwalian, dalam literatur fiqh islam disebut dengan al-walayah (al-wilayah), seperti kata ad-dalalah yang juga bisa disebut dengan ad-dilalah. 

Secara etimologis, al-walayah memiliki beberapa arti. Di antaranya adalah cinta (al-mahabbah) dan pertolongan (al-nashrah), seperti dalam penggalan ayat, “wa man yatwallallaha wa rasulahu” dan kata “ba’dhuhum awliya’u ba’dhin”. Ayat 61 At-Taubah (9), juga berarti kekuasaan/otoritas (as-sulthah wal-qudrah), seperti dalam ungkapan al-wali, yakni orang yang mepunyai kekuasaan. 

Hakikat dari al-walayah (al-wilayah) adalah tawalliy al-amr (mengurus/menguasai sesuatu). Adapun yang dimaksud dengan perwalian dalam terminologi para fuqaha (pakar hukum islam), seperti diformulasikan Wahbah Al-Zuhayli ialah “kekuasaan/otoritas (yanga dimiliki)” seseorang untuk secara langsung melakukan suatu tindakan sendiri tanpa harus bergantung (terikat) pada izin orang lain. 

Atas dasar pengertian semantik, kata wali dapat dipahami alasan hukum Islam menetapkan ayah sebagai orang yang paling berhak untuk menjadi wali bagi kepentingan anaknya. Hal ini karena ayah adalah orang yang paling dekat, siap menolong, serta mengasuh dan membiayai anak-anaknya. Jika tidak ada ayahnya, barulah hak perwaliannya digantikan oleh keluarga dekat lainnya dari pihak ayah, dan seterusnya. (Dedi Supriyadi, 2011: 32)

B.Wali Nikah Menurut Hanafiyah


Sebagaimana diketahui bahwa mazhab Hanafiyah menyandarkan pada rasionalitas dalam membuat keputusan hukumnya. Hal ini terlihat ketika mereka berpandangan bahwa status wali hanyalah syarat perkawinan, bukan rukun perkawinan. Ulama Hanafiyah meringkas rukun nikah terdiri atas ijab dan qabul. 

Status wali menjadi syarat sahnya perkawinan khusus anak kecil, baik perempuan maupun laki-laki, orang gila ([madznun] perempuan/laki-laki) meskipun orang dewasa. Adapun orang dewasa yang sudah baligh, baik janda maupun gadis tidak berada dalam kekuasaan wali, cukuplah kedua mempelai tersebut dengan akad nikah (ijab/qabul) dengan syarat keduanya kafaah.( Dedi Supriyadi, 2011: 33)

Rasionalitas tentang wali dalam pandangan Hanafiyah didasarkan bahwa akad nikah sama dengan akad jual-beli. Oleh karena itu, syaratnya cukup dengan ijab dan qabul. Selain itu, secara istidhlal, Hanafiyah berpandangan bahwa Al-Qur’an ataupun hadits yang dijadikan hujjah terhadap status wali sebagai rukun nikah, tidak memberikan isyarat bahwa wali tersebut sebagai rukun nikah. (Dedi Supriyadi, 2011: 33)

Dalam mazhab Hanafiyah, landasan Al-Qur'an dan hadis yang dijadikan sebagai dasar pijakan tidak perlunya wali adalah sebagai berikut: (Dedi Supriyadi, 2011: 36)

  • Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 230:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

"Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui."

  • Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 232:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

  • Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 234:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat."
Adapun hadits-hadits Nabi SAW, yang dijadikan sebagai dasar tidak diperlukannya wali dalam mazhab Hanafiyah, sebagai berikut: (Dedi Supriyadi, 2011: 38)
  1. Hadits yang diriwayatkan oleh jama'ah, kecuali Bukhari dan Ibnu 'Abbas ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw.: Artinya: “Janda-janda lebih berhak atas dirinya ketimbang walinya, sedang gadis dimintai izinnya. Izinnya adalah diamnya.”
  2. Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Artinya: “Wali tidak mempunyai urusan mengenai wanita tsaib, dan yatimah diminta pendapatnya dan diamnya adalah pengakuannya.”
  3. Hadits yang datang mengenai pernikahan Nabi dengan Ummi Salamah. Ketika Nabi mengutus wakilnya untuk meminang kepadanya langsung, Unmi Salamah berkata, "Tidak ada seorang pun diantara wali saya yang hadir, bersabda Rasulullah SAW.:

Artinya: "Tidak ada seorang pun diantara walimu yang tidak suka, baik ia hadir, maupun ia tidak hadir”.

Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafiyah, posisi wali itu tidak mutlak dan kalaupun ada, hanya diperuntukkan kepada wanita yang masih gadis (belum dewasa). Bahkan, dalam tulisan Abu Zahrah yang dikutip Jawad Mughniyah, disebutkan: Mazhab Hanafi mengatakan bahwa wanita yang telah baligh dan berakal sehat boleh memilih sendiri suaminya dan boleh pula melakukan akad nikah sendiri, baik dia perawan maupun janda. Tidak ada seorang pun yang mempunyai wewenagng atas dirinya atau menentang pilihannya, dengan syarat, orang yang dipilihnya itu se-kufu (sepadan) dengannya dan maharnya tidak kurang dari mahar mitsil. 

Akan tetapi, apabila dia memilih seorang laki-laki yang tidak se-kufu dengannya, walinya boleh menentangnya, dan meminta kepada qadhi untuk membatalkan akad nikahnya. Kalau wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain dengan mahar kurang dari mahar mistil, qadhi boleh diminta untuk membatalkan akadnya apabila mahar mitsil tersebut tidak dipenuhi oleh suaminya. (Dedi Supriyadi, 2011: 39)

Meskipun status wali dalam mazhab Hanafiyah seperti itu, mazhab Hanafi memilki urutan perwalian: “... urutan pertama perwalian itu berada di tangan anak laki-laki wanita yang akan menikah, sekalipun anak laki-laki itu hasil zina. Kemudian, berturut-turut cucu laki-laki (dari pihak anak laki-laki), ayah, kakek dari pihak ayah, saudara kandung, saudara laki-laki seayah, anak saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah), anak paman, dan seterusnya.” (Dedi Supriyadi, 2011: 40)

C.Wali Nikah Menurut Malikiyah


Imam Malik, sebagaimana dikutip Ibnu Rusyd, berpendapat bahwa "Tidak terjadi pernikahan, kecuali dengan wali. Wali adalah syarat sahnya pernikahan sebagaimana riwayat hadits Asyhab". Atas pemikiran Malik, para pengikut Imam Malik atau dikenal dengan Malikiyah, lebih tegas berpendapat,"Wali adalah rukun dari sebagian rukun nikah, tidak sah akad nikah tanpa adanya wali". Dasar keharusan wali dalam nikah dalam mazhab Maliki dan mazhab yang sepakat terhadap wali sebagai syarat sahnya pernikahan adalah surat Al-Baqarah ayat 232 dan 221. sebagaimana dijelaskan di atas. (Dedi Supriyadi, 2011: 41)

Adapun hadits yang sudah masyhur yang dijadikan sebagai dasar keharusan wali dalam pernikahan adalah:  Hadits Nabi SAW. lain yang dijadikan dasar hukum wali bagi mazhab Maliki ataupun mazhab yang menyetujuinya, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Artinya: " Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil...". (Dedi Supriyadi, 2011: 42)

Berdasarkan pemahaman tersebut, mazhab Maliki berpendapat, jika wanita baligh dan berakal sehat itu masih gadis, hak menikahkan dirinya ada pada wali. Akan tetapi, jika janda, hak itu ada pada keduanya. Wali tidak boleh menikahkan wanita janda itu tanpa persetujuannya. 

Sebaliknya, wanita itu pun tidak boleh menikhakan dirinya tanpa restu sang wali. sekalipun demikian, pengucapan akad adalah hak wali. Akad yang diucapkan hanya sekali, walaupun akad itu memelurkan persetujuannya. 

Lebih jelas lagi, diuraikan oleh Aj-Juzairi tentang urutan wali dalam mazhab Maliki, terutama kewenangan khusus wali mujbir sebagai berikut: “Urutan pada wali dalam pernikahan sebagai berikut, wali mujbir adalah 
  1. bapak dan penerima wasiat dari ayah dengan ucapan: kamu adalah wasiatku untuk menikahkan anakku dan seterusnya;
  2. kakek,
  3. penguasa (malik) karena ia memiliki kekuasaan umum. (Dedi Supriyadi, 2011: 43)

D.Wali Nikah Menurut Syafi’iyah


Mazhab Syafi’iyah, dalam hal ini diwakili oleh Imam Taqiuddin Abi Bakar ibn Muhammad Al-Husaini Al-Husyna Ad0Dimsyiqi Asy-Syafi’i dalam kitabnya Kifayatu Al-Akhyar fi Gayat Al-Ikhtisyar, dijelaskan bahwa “Wali adalah salah satu rukun nikah, tidak sah pernikahan kecuali dengan wali.” 

Dasar wali yang digunakan dalam mazhab Syafi’iyah sebagai berikut: QS. Al-Baqarah ayat 232, Artinya: “...Maka jangan kamu menghalangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya...”

Ayat diatas, diturunkan kepada Mu’qil ibn Yasar ketika menolak untuk menikahkan saudara perempuannya yang ditalak oleh suaminya. Demikian pula, tulisan As-Son’ani menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Mu’qil ibn Yasar yang menolak menikahkan saudara perempuannya yang ditalak raj’i oleh suaminya. Menurut Imam Syafi’i. Ayat ini jelas sekali menunjukkan status wali sebagai hal yang wajib dalam pernikahan. (Dedi Supriyadi, 2011:44)
  1. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban: Artinya: “ Tidak ada nikah, kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil dan tidak nikah selain seperti itu, maka nikahnya batil.”
  2. Landasan ketiga dari mazhab Syafi’iyah adalah qaul Syafi’i: Artinya: “Tidak sah akad nikah, kecuali dengan wali laki-laki dan jika terjadi akad nikah seorang perempuan maka akadnya batal.” (Dedi Supriyadi, 2011: 45)

Secara umum, ulama Syafi’iyah membedakan wali menjadi wali menjadi tiga, yaitu wali dekat (aqrab), wali jauh (ab’ad), dan wali hakim. Bagi imam Asy-Syafi’i, pihak yang berhak menjadi wali adalah ayah dan keluarga pihak laki-laki. 

Adapun urutan wali adalah: 


  1. Ayah; 
  2. Kakek dari pihak bapak,
  3. Saudara laki-laki kandung; 
  4. Saudara laki-laki sebapak; 
  5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung; 
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak; 
  7. Paman sekandung (saudara laki-laki dari ayah yang seibu-sebapak);
  8. Paman sebapak (saudara laki-laki dari ayah yang sebapak); 
  9. Anak laki-laki dari paman seibu sebapak; 
  10. Anak laki-laki dari paman sebapak; dan 
  11. Hakim. (Dedi Supriyadi, 2011: 45)

  • Dalam qaul qadim, Imam Syafi’i berpendapat bahwa hak perwalian saudara kandung dan saudara sebapak adalah sama (sejajar), karena wali nikah ditentukan berdasarkan nasab laki-laki. 

  • Adapun dalam qaul jadid, Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa saudara kandung lebih berhak untuk menjadi walimperkawinan atas saudara sebapak; karena mereka lebih berhak mendapatkan ‘ashabat (harta waris sisa) dalam pembagian harta pusaka. Urutan wali terakhir dalam mazhab Syafi’i adalah sulthan (hakim). Sebagaimana hadits Nabi SAW., yang menyebutkan: artinya: “Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali.” (Dedi Supriyadi, 2011: 46)


E.Wali Nikah Menurut Hanabilah 


Mazhab Hanbaliyah dalam memandang wali, pada dasarnya sama dengan  mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah. Ketiga mazhab tersebut berpendapat bahewa wali itu sangat penting (dharuri) dalam pernikahan. Adapun pengambilan dalil mazhab Hanbaliyah, termasuk kelompok ulama Jumhur, tentang keharusan adanya wali berdasarkan Al-Qur’an adalah:
  • Q.S An-Nur [24]: 32

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."

  • Q.S Al-Baqarah [2]: 228 (Dedi Supriyadi, 2011: 47)

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Landasan normatif (hadits)tentang wali yang digunakan dalam mazhab Hanbali, meskipun sama dengan mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah, tetapi berbeda redaksi haditsnya, sebagai berikut:
  1. Artinya: “Dari Abu Burdah ibn Musa dari bapaknya berkata, Rasulullah SAW. Bersabda, ‘ Tidak ada nikah, kecuali dengan wali’.” (H.R. Ahmad dan empat Imam hadits dan telah disahihkan oleh Ibnu Madini, dan Ibnu Hiban)
  2. Artinya: “Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Nabi bersabda, ‘Siapa saja yang menikah tanpa seizin walinya, pernikahan itu batal (diucapkan tiga kali)’.” (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi) (Dedi Supriyadi, 2011: 48)
  3. Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.: Artinya: “Sesungguhnya nikah tanpa wali adalah batil.” (Dedi Supriyadi, 2011: 49)

Berdasarkan landasan tersebut, mazhab Hanbaliyah menetapkan bahwa wali itu wajib dan harus ada dalam pernikahan. Ia menjadi rukun diantara rukun-rukun nikah. Pernikahan tanpa wali adalah tidak sah baik kepada orang yang sudah dewasa atau belum dewasa. Adapun susunan wali dalam mazhab Hanbaliyah, sebagai berikut, bapak, penerima wasiat bapak jika meninggal, hakim (sulthan) ketika diperlukan; mereka adalah para wali mujbir (yang memaksa); seterusnya wali akrab seperti dalam waris. (Dedi Supriyadi, 2011: 49)

Posisi wali mujbir berlaku kepada orang yang belum dewasa, baik gadis maupun janda, dan usianya dibawah 9 tahun. Adapun apabila usianya 9 tahun dan ia janda, wali tidak memilki hak untuk memaksa, tetapi hanya meminta izinnya. Hak memaksa (ijbar) berlaku kepada gadis yang sudah dewasa, baik sehat maupun gila maka bapak berhak menikahkan tanpa harus ada izin dari keduanya, kecuali pasangan (calon) ada cacat maka berlaku hak hiyar untuk membatalkan perkawinan tersebut. (Dedi Supriyadi, 2011: 50)

F.Persamaan dan Perbedaan Wali Nikah Menurut Empat Mazhab Fiqh


Terdapat perbedaan dan persamaan pandangan dikalangan para imam madzhab mengenai wali. Berikut ini adalah persamaan dan perbedaan pandangan 4 imam mengenai wali:
  1. Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah sepakat keharusan adanya wali, baik gadis maupun janda, baik dewasa atau belum dewasa. Sedangkan, Hanafiyah berpandangan bahwa keharusan adanya wali hanya untuk gadis yang belum dewasa (shagirah) dan yang dewasa tetapi gila (kabirah mazjunah). Adapun bagi yang dewasa dan berakal sehat,baik gadis maupun janda, mereka mempunyai hak untuk menikahkan dirinya sendiri kepada orang yang dikehendaki.
  2. Syafi’iyah dan Hanbaliyah sepakat bahwa wali mujbir itu bapak dan kakek. Berbeda dengan Malikiyah, wali mujbir iyu bapak saja. 
  3. Syafi’iyah dan Hanbaliyah sepakat bahwa wali ghairu mujbir itu bapak dan kakek. Berbeda dengan Malikiyah, yang berpendapat bahwa wali ghairu mujbir adalah anak laki-laki meskipun (anak hasil zina). Sedangkan Hanafiyah wali ghairu mujbir adalah anak laki-laki saja.
  4. Syafi’iyah, Hanbaliyah, dan Hanafiyah sepakat bahwa wali ab’ad dan wali hakim tidak boleh menikahkan ketika ada wali aqrab. Berbeda dengan Malikiyah bahwa urutan antara wali-wali nikah itu mandub (sunnah).
  5. Syafi’iyaha, Hanbaliyah, dan Malikiyah sepakat bahwa wali harus laki-laki, tidak sah wali perempuan. Hanafiyah berpendapat bahwa wali perempuan boleh ketika tidak ada wali laki-laki.
  6. Semua mazhab sepakat bahwa wali nikah bisa diwakilkan atau diganti.
  7. Mazhab Syafi’iyah, Hanbaliyah, dan Malikiyah sepakat mewajibkan wali sebagai rukun nikah berdasarkan surat Al-Baqarah Ayat 232 dan hadits dari Aisyah. Adapun Hanafiyah menolak dasar tersebut karena terdapat kedhaifan hadits dan konteks ayat tersebut tidak menunjukkan keharusan adanya wali. (Dedi Supriyadi, 2011: 50)

Itulah penjelasan mengenai Wali Nikah Menurut 4 Madzhab beserta Persamaan dan perbedaan pandangannya menurut 4 Imam madzhab.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wali Nikah Menurut 4 Madzhab"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.