Perbedaan Mudharabah dan Qiradh.

Pada buku atau website lain, biasanya penjelasan mudharabah dan qiradh ini adalah sama. Ketika kalian mencari syarat-syarat qiradh, maka yang akan muncul adalah syarat-syarat mudharabah. Selanjutnya, jika mencari rukun-rukun qiradh, maka yang muncul adalah rukun-rukun mudharabah.

Pada awalnya, ketika saya menulis ini juga membuat saya bingung. Karena pada intinya sama. Namun, karena terdapat kata "dan", maka keduanya memiliki perbedaan.

Namun, sebelum saya menjelaskan perbedaannya, saya ingin membahas perngertiannya terlebih dahulu.

Pengertian Mudharabah dan Qiradh


Perbedaan Qiradh dan Mudharabah
Perbedaan Qiradh dan Mudharabah


Mudharabah


Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal. Istilah mudharabah digunakan oleh orang Iraq. 

Pada hakikatnya pengertian dari mudharabah adalah suatu bentuk kerja sama antara pemlik modal/shohibul maal dan pekerja/mudhorib. Modal 100% dari pemilik modal. Sedangkan mudhorib hanya sebagai pengelola. Jika terdapat keuntungan. maka keuntungannya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati di awal.


Keuntungan dari usahanya tersebut secara Mudharabah akan dibagi hasilnya menurut kesepakatan yang telah disepakati pada perjanjian awal, dan jika suatu saat usaha tersebut mengalami kerugian maka kerugian tersebut akan ditanggung oleh (shahibbul mal) pihak pemodal selama kerugian tersebut bukan disebabkan kelalaian oleh pekerja atau pengelola modal. 

Dan apabila kerugian tersebut disebabkan karena kecurangan atau kelalaian si pekerja atau pengelola modal, maka pengelola modal yang harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Keuntungan bersih dibagi setelah segala pembelanjaannya atau biaya perdagangan diperhitungkan dan modal investor (shabbiul mal) dikembalikan lagi. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dengan khadijah. Rasulullah pergi ke Syam untuk memperdagangkan modal dagangan khadijah, sebelum ia diangkat menjadi rasul. 


Pengertian Mudharabah menurut 4 Imam: 


  1. Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah “Akad syirkah dalam laba, satu pihak pemilik harta dan pihak lain pemilik jasa”.
  2. Malikiyah berpendapat bahwa mudharabah adalah: ”Akad perwakilan, di mana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran yang ditentukan (mas dan perak)”.
  3. Imam Hanabilah berpendapat bahwa Mudharabah adalah: ”Ibarat pemilik harta menyerahakan hartanya dengan ukuran tertentu kepada orang yang berdagang dengan bagian dari keuntungan yang diketahui”.
  4. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa Mudharabah adalah: ” Akad yang menentukan seseorang menyerahakan hartanya kepada orang lain untuk ditijarahkan”.


Mudharabah juga disebut dengan qiradh atau al-qath’u yang berarti potongan, karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan oleh pengusaha dan memperoleh sebagian keuntungan 

Qiradh


Qiradh secara bahasa berasal dari kata qardh, yang berarti potongan sebab yang mempunyai harta memotong hartanya untuk si pekerja agar dia bisa bertindak dengan harta itu dan sepotong keuntungan. Dari kata yang sama pula miradh yaitu alat memotong (gunting), juga dinamakan mudharabah  (bagi hasil) karena memiliki arti berjalan diatas muka bumi yang biasa dinamakan bepergian. Surat an-nisa:101. 
Qiradh pada hakikatnya hanyal saling membantu. Jadi tanpa mengambil keuntungan. Hanya modal awal harus dikembalikan oleh si pekerja. Ibarat pemodal memberikan utang modal kepada sipekerja untuk digunakan modalnya agar mendapat keuntungan. Qaradh adalah pinjaman.

Jadi menurut penulis mengenai Mudharabah dan Qiradh adalah: 
Mudharabah dilakukan oleh si pemilik modal dengan si pengelola modal. Mudharabah pada intinya seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Secara ringkas, pemodal memberikan modal kepada pengelola modal. Modal tersebut 100% berasal dari pemodal. 
Sedangkan qiradh adalah pemilik modal memberikan modal kepada sipengelola modal untuk mebeglola modalnya, dna untuk mendapatkan keuntungan. Jika sudah mendapatkan keuntungan, maka modal yang diberikan oleh pemilik modal harus dikembalikan. Jadi pada intinya adalah membantu orang lain yang ingin bekerja, dengan cara meminjamkan modalnya.  

Mudharabah dan qirad itu terdapat perbedaan istilah di hijaz dan irak.

Jenis-jenis Mudharabah 


Menurut Muhammad Syafi’I dalam bukunya, terdapat dua jenis mudharabah. Yaitu:

  • Mudharabah Muthlaqah, adalah bentuk kerja sama antara penyedia modal (shahibul maal) dan pengelola modal (mudharib) yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah yang akan digunakan untuk usahanya. Apabila terjadi kerugian dalam bisnis tersebut, mudharib tidak menanggung resiko atas kerugian. Kerugian sepenuhnya ditanggulangi shahibul mal.
  • Mudharabah Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah atau specified mydharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah, yaitu mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, dan tempat usahanya. Dengan adanya pembatasan tersebut seringkali mencerminkan kecenderungan umum shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usahanya.
Batasan-batasan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan modalnya dari resiko kerugian. Syarat-syarat itu harus dipenuhi oleh si mudharib. Apabila mudharib melanggar batasan-batasan ini, maka ia harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul.


Dalil Mudharabah


Belum kami temukan dalil yang menjelaskan secara jelas mengenai mudharabah. Yang ada hanyalah dalil anjuran untuk melakukan usaha. Seperti berikut ini:


فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."(Q.S Al-jumu’ah:10)


لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ
"Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu…. "
(Potongan Q.S Al-baqarah:198)


{ عن صالح بن صهيب عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث فيهن البركة البيع إلى أجل والمقارضة وأخلاط البر بالشعير للبيت لا للبيع }
Dari Shalih bin Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah no. 2280, kitab at-Tijarah)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." 
(Q.S An-nissa:149).

“Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual-beli yang ditangguhkan, melakukan qiradh (memberi modal pada orang lain), dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk diperjualbelikan.” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).


Qiyas:

اَلأَصْلُ فِى الْمُعَامَلاَتِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا.
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”.


Syarat-syarat Mudharabah dan Qiradh: 

Foot Note: Syukri Iska, Perbankan  Syariah di Indonesia, (Yogayakarta: Fajar Media Press, 2014), cet,2. Hlm.187
Dalam akad mudharabah terdapat beberapa syarat, yaitu:

  1. Modalnya harus berbentuk tunai dan tidak boleh berbentuk utang.
  2. Dapat diketahui dengan jelas agar dapat dibedakan antara modal dan keuntungan.
  3. Pembagian modal dengan pekerja harus jelas. Seperti: setengah, sepertiga atau seperempat sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah dengan penduduk khaibar.
  4. Pelaksanaannya harus bersifat mutlak, yaitu pemodal tidak boleh membatasi pekerja untuk berusaha pada tempat, barang, atau dengan orang tertentu saja.


Dalam pelaksanaan akad mudharabah, bisa terjadi pengalihan modal oleh pekerja kepada pihak lain. Namun, dalam islam hal ini dilarang, kecuali jika pekerja mau menjamin kerugian yang terjadi, sedangkan pembagian keuntungan bagi pemodal adalah tetap sesuati dengan kesepakatan awal yang telah ditentukan

Rukun-rukun mudharabah dan qiradh:

Foote Note: Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet.2, 1994), hlm. 299 
  1. Harta/modal. Modal disini bisa berupa uang ataupun lainnya. Keadaan modal hendaklah diketahui banyaknya.
  2. Pekerjaan, yaitu berdagang dan lain-lainnya yang behubungan dengan urusan perdagangan tersebut. Barang dan tempat yang hendak diperdangankan tidak ditentukan kepada barang atau tempat khusus.
  3. Keuntungan. Banyaknya keuntungan hendaklah ditentukan sewaktu awal akad. Break Even Point (BEP) harus jelas, karena BEP menggunakan sistem revenue sharing dengan profit sharing berbeda. Revenue sharing adalah pembagian keuntungan yang dilakukan sebelum dipotong biaya operasional, sehingga bagi hasil dihitung dari keuntungan kotor/ pendapatan. Sedangkan profit sharing adalah pembagian keuntungan dilakukan setelah dipotong biaya operasional, sehingga bagi hasil dihitung dari keuntungan bersih 
  4. Yang punya modal dan yang bekerja. Keduanya hendaklah sudah baligh dan bukan orang yang dipaksa. 
Tidak disyaratkan harus muslim, mudharabah dibolehkan dengan orang kafir Dzimmi. Adapun ulama malikiyah memakruhkan mudharabah dengan kafir Dzimmi jika mereka tidak melakukan riba dan melarangnya jika mereka melakukan riba.

Permasalahan antara pemilik modal dengan pengusaha mengenai mudharabah dan qiradh, antara lain:
  1. Perbedaan dalam mengusahakan (Tasyaruf) harta.
  2. Perbedaan dalam harta yang rusak. 
  3. Perbedaan tentang pengembalian harta.
  4. Perbedaan dalam jumlah modal

Perkara-peraka yang membatalkan mudharabah dan qiradh, antara lain:
  • Pembatalan, Larangan Berusaha, dan Pemecatan
  • Salah seorang akid meninggal dunia
  • Salah seorang aqid gila
  • Pemilik modal murtad
  • Modal rusak ditangan pengusaha

Macam-macam mudharabah dan qiradh:
  1. Kredit Candak Kulak
  2. Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
  3. Kredit Modal Karya Permanen (KMKP)

Hikmah melakukan mudharabah dan qiradh:
  • Terwujudnya tolong menolong sebab tidak jarang orang yang punya modal. Tetapi tidak punya keahlian berdagang atau sebaliknya punya keahlian berdagang tetapi tidak punya modal.
  • Salah satu perilaku ibadah yang lebih mendekatkan diri pada rahmat Allah karena dapat melepaskan kesulitan orang lain yang sangat membutuhkan pertolongan.
  • Bagi yang mengqiradkan akan diberikan pahala dan kemudahan oleh Allah baik urusan dunia maupunurusan akhirat.
  • Terciptanya kerjasama antara pemberi modal dan pelaksanaan yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dan memperkembangkan perekonomian ummat.
  • Terbinanya pribadi-pribadi yang taaluf (rasa dekat) antara keduanya
  • Yang memberikan pinjaman modal akan mendapat unggulan pahala hingga delapan belas kali lipat bisa dibandingkan dengan sedekah hanya sepuluh kali.

DAFTAR PUSTAKA

  • http://islammakalah.blogspot.co.id/p/blog-page_5136.html 
  • Prof. Dr. Abdul Azziz Muhammad Azzam. FIQIH MUAMALAT. Jakarta: Sinar Grafika Offset. 2010.
  • Muhammad syafi’i antonio. Bank syari’ah: dari teori ke praktik. Jakarta: gema insani press. 2001
  • http://tafsirq.com 
  • Syukri Iska. Perbankan  Syariah di Indonesia. Yogayakarta: Fajar Media Press. 2014.
  • Sulaiman Rasyid. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Cet.2., 1994
  • http://pbsstainmetro.blogspot.co.id/2014/02/pengertian-skema-contoh-dan-dasar-hukum.html 
  • http://qiradhdanmudharabah.blogspot.co.id 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Perbedaan Mudharabah dan Qiradh."

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.